Kamis, 19 Oktober 2017

berita kesehatan - Kenapa Bangsa Indonesia Bisa Kalah Kreatif Dengan Negara Luar

Kenapa Bangsa Indonesia Bisa Kalah Kreatif Dengan Negara Luar



berita kesehatan - Kenapa Bangsa Indonesia kalah kreatif dari negara maju ,
sesungguhnya ini  ringkasan dari buku Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland
yang berjudul “Why Asians Are Less Creative Than Westerners”

(Kenapa bangsa Asia kalah kreatif dari negara-negara barat), namun berhubung saya tinggal di Indonesia serta lebih mengetahui Indonesia,

jadi saya ganti judulnya,
karna saya terasa kalau bangsa Indonesia mempunyai tanda-tanda yang paling serupa seperti yang tertulis dalam buku itu.

1. Untuk umumnya orang Indonesia, ukuran berhasil dalam kehidupan yaitu banyak materi yang dipunyai (tempat tinggal, mobil, uang serta harta beda).

Passion (rasa cinta pada suatu hal) kurang dihargai. Mengakibatkan, bagian kreativitas kalah popular oleh profesi dokter, pengacara,

serta semacamnya yang dipandang dapat lebih cepat jadikan seseorang untuk mempunyai banyak kekayaan.

2. Untuk orang Indonesia, banyak kekayaan yang dipunyai lebih dihargai dari pada langkah peroleh kekayaan itu.

Tidaklah heran apabila semakin banyak orang suka pada ceritera, novel,

sinetron atau film yang bertopik orang miskin jadi kaya mendadak karna mujur temukan harta karun,
atau jadikan istri oleh pangeran serta semacam itu.

Tidaklah heran juga apabila tingkah laku korupsi juga ditolerir/di terima jadi suatu hal yang lumrah.

3. Untuk orang Indonesia, pendidikan identik dengan hafalan berbasiskan “kunci jawaban”, bukanlah pada pengertian.

Ujian Nasional, tes masuk PT, dan lain-lain, semuanya berbasiskan hafalan.

Hingga tingkat sarjana, mahasiswa diwajibkan hafal rumus-rumus pengetahuan tentu serta pengetahuan kalkulasi yang lain,

bukanlah diarahkan untuk mengerti kapan serta bagaimana memakai rumus rumus itu.

4. Karna berbasiskan hafalan, murid-murid di sekolah di Indonesia dijejali sebanyak-banyaknya pelajaran.
Mereka dididik jadi “Jack of all trades, but master of none”
(tahu sedikit-sedikit mengenai beberapa hal namun tidak kuasai apa pun).

5. Karna berbasiskan hafalan, banyak pelajar Indonesia mungkin saja juara dalam Olympiade Fisika serta Matematika.

Namun nyaris tidak sempat ada orang Indonesia yang memenangi Nobel atau hadiah internasional yang lain yang berbasiskan inovasi serta kreatifitas.

6. Orang Indonesia takut salah serta takut kalah. Mengakibatkan, sifat eksploratif jadi usaha penuhi rasa penasaran serta keberanian untuk ambil kemungkinan kurang dihargai.

7. Untuk umumnya bangsa Indonesia, ajukan pertanyaan berarti bodoh,
maka dari itu rasa penasaran tidak memperoleh tempat dalam sistem pendidikan di sekolah.

8. Karna takut salah serta takut dipandang bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop,
peserta tidak sering ingin ajukan pertanyaan namun sesudah session selesai, peserta juga akan mengerubungi guru/narasumber untuk memohon keterangan penambahan.

Dalam bukunya, Prof. Ng Aik Kwang tawarkan sebagian jalan keluar seperti berikut :
1. Hargai sistem. Hargailah orang karna pengabdiannya, bukanlah karna kekayaannya.
Sia-sia bangga naik haji atau membuat mesjid atau pesantren, namun duitnya dari hasil korupsi

2. Hentikan pendidikan berbasiskan kunci jawaban. Biarlah murid mengerti bagian yang paling disenanginya.

3. Janganlah jejali murid dengan adanya banyak hafalan, terlebih matematika.
Untuk apa di ciptakan kalkulator bila jawaban untuk X x Y mesti dihapalkan? Biarlah murid pilih sedikit mata pelajaran namun betul-betul dikuasainya.

4. Biarlah anak pilih profesi berdasar pada passion (rasa cinta)
nya pada bagian itu, bukanlah memaksanya ambil jurusan atau profesi spesifik yang lebih cepat hasilkan uang.

5. Basic kreatifitas yaitu rasa penasaran berani ambillah kemungkinan. Mari ajukan pertanyaan!

6. Guru yaitu fasilitator, bukanlah dewa yang perlu tahu semuanya. Mari akui dengan bangga bila kita tidak paham!

7. Passion manusia yaitu anugerah Tuhan. Jadi orangtua, kita bertanggungjawab untuk mengarahkan anak kita untuk temukan passionnya serta mensupportnya.

0 komentar:

Posting Komentar