Kamis, 19 Oktober 2017

berita kesehatan - Berikut Bukti Kalau Orang Tua Seringkali Membohongi Anaknya

Berikut Bukti Kalau Orang Tua Seringkali Membohongi Anaknya



berita kesehatan - Berikut Bukti Kalau Orang Tua Seringkali Membohongi Anaknya dalam kehidupan kita keseharian,

kita yakin kalau kebohongan juga akan buat manusia tersungkur dalam penderitaan yang mendalam, namun cerita ini malah demikian sebaliknya.

Dengan terdapatnya kebohongan ini, arti sebenarnya dari kebohongan ini malah bisa buka mata kita serta terlepas dari penderitaan,

seperti satu daya yang dapat mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah didunia.

Tersebut Kebohongan orangtua pada anaknya. Apa bukti kalau mereka sukai berbohong pada anaknya?

Narasi berawal saat masih tetap kecil, sebut saja si Andi, terlahir jadi seseorang anak lelaki di satu keluarga yang miskin.

Bahkan juga untuk makan saja, sering kekurangan. Saat makan, sang Orang Tua seringkali memberi jumlah nasinya untuk Andi.

Sembari mengubahkan nasi ke mangkok Andi, Orang Tua berkata : “Makanlah nak, saya tidak lapar”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG PERTAMA

Saat Andi mulai berkembang dewasa, Orang Tua yang gigih seringkal

menyempatkan diri senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat tempat tinggal,

Orang Tua mengharapkan dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberi sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan.

Sepulang memancing, Orang Tua memasak sup ikan yang fresh serta mengundang selera.

Pada saat Andi menelan sup ikan itu,
Orang Tua duduk disebelahnya serta menelan sisa daging ikan yang masih tetap melekat di tulang
yang disebut sisa sisa tulang ikan yang Andi makan.

Andi lihat Orang Tua sesuai sama itu, hatinya tersentuh juga, lantas memakai sendok serta memberinya pada Orang Tua’nya.

Namun sang Orang Tua secara cepat menampiknya, ia berkata : “Makanlah nak, saya tidak sukai makan ikan”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEDUA

Saat ini Andi telah masuk SMP, untuk membiayai sekolah abangnya serta dia,

Orang Tua pergi ke koperasi pembuatan kotak korek api untuk membawa beberapa kotak korek api untuk ditempel merk’nya,

serta hasil tempelannya itu menghasilkan sedikit uang untuk menutupi keperluan hidup.

Di saat musim dingin tiba, Andi bangun dari tempat tidurnya,
lihat Orang Tua masih tetap bertumpu pada lilin kecil serta dengan gigihnya meneruskan pekerjaanny melekat kotak korek api.

Andi berkata : ”Ibu/ayah, istirahatlah, telah malam, besok pagi ibu/ayah masih tetap mesti kerja. ” Orang Tua tersenyum serta berkata :

Cepatlah tidur nak, saya tidak capek”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KETIGA

Tetangga yang berada di samping tempat tinggal lihat kehidupan keluarga Andi yang demikian sengsara,

sering memberikan nasehat ibu Andi untuk menikah sekali lagi.
Namun Orang Tua yang memanglah keras kepala tidak memedulikan saran mereka, ibu berkata : “Saya tidak perlu cinta”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KELIMA

Sesudah Andi serta abangnya semuanya telah tamat dari sekolah serta bekerja, ibu yang telah tua telah saatnya pensiun.

Namun ibu tidak ingin, ia ikhlas untuk pergi ke pasar tiap-tiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk penuhi keperluan hidupnya.

Abang Andi yang bekerja diluar kota seringkali kirim sedikit uang untuk menolong penuhi keperluan ibu,
namun ibu bersikukuh tidak ingin terima uang itu.

Terlebih kirim balik uang itu. Ibu berkata : “Saya miliki duit”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEENAM

Sesudah lulus dari S1, Andi juga meneruskan studi ke S2
serta lalu peroleh titel master di satu kampus terkenal di Amerika karena satu beasiswa di satu perusahaan.

Pada akhirnya Andi juga bekerja di perusahaan itu. Dengan upah yang lumayan tinggi, Andi punya maksud membawa ibunya untuk nikmati hidup di Amerika.

Namun ibu yang baik hati, punya maksud tidak ingin merepotkan anaknya, ia berkata pada Andi “Aku tidak terbiasa”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KETUJUH

Sesudah masuk usianya yang tua, ibu terserang penyakit kanker lambung, mesti dirawat dirumah sakit,

Andi yang ada jauh di seberang samudra atlantik segera selekasnya pulang untuk menjenguk ibunda terkasih.

Andi lihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya sesudah melakukan operasi. Ibu yang keliatan begitu tua, memandang Andi dengan penuh kerinduan.

Meskipun senyum yang menyebar di berwajah berkesan agak kaku karna sakit yang ditahannya.

Tampak dengan terang begitu penyakit itu menjamahi badan ibu Andi hingga ibunya tampak lemah serta kurus kering. Andi sembari memandang ibunya sembari berlinang air mata.

Hatinya perih, sakit sekali lihat ibunya dalam keadaan begini. Namun ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Saya tidak kesakitan”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEDELAPAN.

Sesudah mengatakan kebohongannya yang ke-8, ibu Andi terkasih tutup matanya untuk yang paling akhir kali.

0 komentar:

Posting Komentar